Beranda / Pendidikan / Dosen Fisioterapi UMM Kembangkan Skrining Digital untuk Pantau Kesehatan Lansia

Dosen Fisioterapi UMM Kembangkan Skrining Digital untuk Pantau Kesehatan Lansia

Jnews.KotaMalang – Dosen Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Nungki Marlian Yuliadarwati, SSt.Ft., M.Kes., mengembangkan instrumen skrining digital bernama PANTAS (Pemantauan Lansia Aktif, Sehat, dan Mandiri). Inovasi yang mulai diperkenalkan prototipenya pada Agustus 2026 di lingkungan UMM ini hadir untuk menjawab persoalan penurunan fungsi fisik lansia seperti hilangnya keseimbangan dan kekuatan otot yang kerap tidak disadari sejak awal. Melalui digitalisasi instrumen penilaian, PANTAS memungkinkan pemantauan kondisi kesehatan lansia dilakukan secara lebih praktis, terstruktur, dan mandiri dari mana saja.

PANTAS dirancang khusus untuk mendeteksi dini berbagai penurunan fungsi tubuh lansia, meliputi kemampuan bergerak, keseimbangan tubuh, risiko jatuh, fungsi kognitif, kualitas tidur, hingga tingkat aktivitas fisik. Instrumen ini dibuat ramah pengguna agar tidak hanya bisa dioperasikan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga oleh mahasiswa, kader posyandu, serta pendamping lansia (caregiver).

Nungki menjelaskan bahwa gagasan pengembangan PANTAS berawal dari pengalamannya di bidang fisioterapi geriatri yang menuntut adanya pemantauan kondisi lansia secara berkala. Menurutnya, pasien lansia yang datang menjalani fisioterapi umumnya hanya menyampaikan keluhan yang sedang dirasakan, seperti nyeri lutut, nyeri bahu, kesulitan berdiri, atau mudah lelah. Padahal, keluhan tersebut sering kali disertai persoalan lain yang belum disadari, termasuk penurunan massa otot dan gangguan keseimbangan.

“Lansia terkadang belum menyadari bahwa mereka memiliki masalah kesehatan tertentu. Mereka biasanya lebih banyak mengeluhkan nyeri, padahal mungkin terdapat masalah lain di balik keluhan tersebut,” jelasnya.

Cara kerja PANTAS cukup sederhana. Pengguna hanya perlu mengisi data dan instrumen penilaian sesuai dengan kondisi riil lansia melalui perangkat digital. Hasil pengisian tersebut kemudian diolah sistem untuk mengidentifikasi aspek kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus, sekaligus memberikan edukasi serta rekomendasi latihan yang sesuai. Apabila ditemukan indikasi yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut, pengguna dapat langsung menghubungi fisioterapis untuk memperoleh arahan.

Salah satu rekomendasi latihan yang diintegrasikan Nungki ke dalam sistem ini adalah Simbah Lentur (Senam Imbang, Sinambi Lenggah, Agawi Angler, Benahi Postur). Program tersebut memadukan latihan kekuatan otot inti, pernapasan dalam, dan perbaikan postur. Kombinasi latihan ini ditujukan bagi lansia yang memiliki risiko jatuh, gangguan keseimbangan, maupun penurunan aktivitas akibat nyeri.

Selain latihan terstruktur, pemantauan rutinitas harian juga menjadi fitur penting dalam PANTAS. Kebiasaan gerak lansia seperti berkebun, berjalan kaki, jogging, maupun senam turut dicatat sebagai tolok ukur kebugaran. Hasil penilaian ini diharapkan mampu memotivasi lansia untuk terus aktif bergerak demi menjaga produktivitas sehari-hari.

Keunggulan utama PANTAS terletak pada transformasi dari formulir cetak konvensional ke perangkat digital, sehingga proses pengisian dan pembacaan hasil menjadi jauh lebih efisien. Kehadiran aplikasi ini diharapkan dapat membantu kader posyandu dan komunitas dalam melakukan skrining awal secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada pemeriksaan langsung oleh fisioterapis.

Ke depannya, Nungki berharap PANTAS dapat dimanfaatkan secara luas sebagai media pemantauan kesehatan lansia yang terstruktur, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini.

“Tujuan pemantauan bukan sekadar mengetahui kondisi kesehatan, melainkan membantu meningkatkan kualitas hidup lansia,” pungkasnya.(*/ARM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *