Beranda / Pendidikan / Dari Australia Hingga Inggris, FISIP UB Berhasil Kumpulkan 237 Peneliti di SEA Futures 2026

Dari Australia Hingga Inggris, FISIP UB Berhasil Kumpulkan 237 Peneliti di SEA Futures 2026

Jnews.KotaMalang – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) berhasil mengumpulkan 237 peneliti yang berasal dari berbagai negara dalam gelaran konferensi internasional Southeast Asia Futures Conference on Social Sciences (SEA FUTURES) 2026 di Malaysia pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.

Konferensi yang bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia ini mencatat peserta berasal dari Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam, Australia, dan Inggris.Konferensi ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mendorong kontribusi ilmu sosial terhadap pembangunan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.

Mengusung tema “Global Southeast Asia: Expanding Networks for Regional Development”, konferensi yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-22 FISIP UB ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk mendiskusikan tantangan pembangunan kawasan, mulai dari transformasi digital, demokrasi dan tata kelola pemerintahan, ketimpangan sosial, hingga dinamika geopolitik dan keberlanjutan pembangunan.

Dekan FISIP UB, Dr. Ahmad Imron Rozuli, S.E., M.Si., mengungkapkan SEA FUTURES 2026 bukan sekadar forum pertukaran gagasan akademik, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menghasilkan pengetahuan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Bagi FISIP Universitas Brawijaya, konferensi ini bukan sekadar forum akademik, melainkan bagian dari komitmen kami untuk memperkuat kualitas riset dan publikasi ilmiah serta memastikan bahwa ilmu sosial memberikan kontribusi nyata bagi kebijakan publik, inovasi sosial, dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, kompleksitas tantangan yang dihadapi negara-negara Asia Tenggara tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral maupun oleh satu negara saja.

Diperlukan penguatan kolaborasi lintas disiplin, institusi, dan negara untuk menghasilkan solusi pembangunan yang lebih inklusif, tangguh, dan berkeadilan.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan, SDG 16 tentang perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh, serta SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Melalui SEA FUTURES 2026, Ahmad Imron Rozuli menjelaskan FISIP UB berupaya menjembatani hasil penelitian akademik dengan kebutuhan kebijakan publik dan inovasi sosial, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga dapat berkontribusi dalam menjawab persoalan pembangunan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FISIP UB juga menyampaikan apresiasi kepada Universiti Putra Malaysia atas dukungan dan kemitraan strategis dalam penyelenggaraan konferensi internasional ini. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat berkembang menjadi agenda penelitian bersama, rekomendasi kebijakan berbasis bukti, serta berbagai bentuk kerja sama akademik yang berkelanjutan.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UB sekaligus Ketua Organizing Committee SEA FUTURES 2026, Reza Safitri, S.Sos., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa konferensi ini menunjukkan tingginya minat komunitas akademik untuk terlibat dalam diskursus pembangunan kawasan Asia Tenggara.

Reza menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan SEA FUTURES 2026 tidak hanya diukur dari jumlah peserta dan luasnya partisipasi internasional, tetapi juga dari potensi kerja sama akademik yang dapat dikembangkan setelah konferensi.

“SEA FUTURES 2026 merupakan bagian dari strategi kami dalam memperkuat capaian indikator kinerja bidang akademik, khususnya internasionalisasi pendidikan dan penelitian. Melalui forum ini, kami ingin memperluas kolaborasi riset internasional, memperkuat jejaring dosen asing dalam kegiatan akademik, sekaligus membuka peluang student mobility dan pertukaran pengetahuan yang lebih berkelanjutan bersama perguruan tinggi mitra,” jelas Reza.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa keterlibatan akademisi dari berbagai negara diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan program visiting professor, guest lecture, joint research, publikasi bersama, hingga mobilitas mahasiswa internasional, baik melalui program akademik jangka pendek maupun pertukaran mahasiswa antarinstitusi.

Konferensi ini juga menghadirkan sejumlah akademisi internasional sebagai pembicara, di antaranya Assoc. Prof. Dr. Akmar Hayati Ahmad Ghazali dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Amran Rasli dari INTI International University Malaysia, Assoc. Prof. Dr. Muhammad Shujaat Mubarik dari Heriot-Watt University, Inggris, Prof. Agata Wiktoria Ziętek dari Maria Curie-Skłodowska University, Polandia, Dr. Doris Oguori dari Shinawatra University, Thailand, serta Assoc. Prof. Koi Koga dari Nanyang Technological University, Singapura.

Keberhasilan SEA FUTURES 2026 menjadi salah satu langkah konkret FISIP UB dalam memperkuat reputasi akademik internasional, sekaligus mendukung visi Universitas Brawijaya sebagai perguruan tinggi berkelas dunia.

 

Kemitraan dengan Universiti Putra Malaysia diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan konferensi, tetapi terus berkembang menjadi ekosistem kolaborasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan dampak bagi pembangunan Asia Tenggara. (*/ARM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *