Beranda / Pendidikan / Modal Awal Rp100 Ribu, Mahasiswa UM Kadek Krisna Dewa Anggana Kini Raup Omzet Ratusan Juta

Modal Awal Rp100 Ribu, Mahasiswa UM Kadek Krisna Dewa Anggana Kini Raup Omzet Ratusan Juta

Jnews.KotaMalang – Berawal dari modal Rp100 ribu, Kadek Krisna Dewa Anggana, mahasiswa Magister Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), berhasil mengembangkan bisnis yang kini memiliki tujuh karyawan dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Perjalanan wirausaha pemuda asal Desa Gesing, Kabupaten Buleleng, Bali, ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk membangun masa depan.

Krisna tidak tumbuh dalam keluarga berkecukupan. Sejak kecil, ia terbiasa membantu ibunya berjualan dan menghadapi berbagai persoalan ekonomi keluarga. Kondisi tersebut bahkan membuatnya pernah merasa minder di lingkungan sekolah, meski kemudian berhasil meraih prestasi akademik dan aktif dalam organisasi.

Perjalanan hidupnya tidak langsung mengantarkannya pada kesuksesan. Setelah lulus SMKN Bali Mandara, Krisna bekerja di perusahaan kelapa sawit di Sumatera Selatan. Namun, penghasilan yang diperoleh sebagian besar digunakan untuk membantu keluarga. Ia juga sempat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup hingga harus menjual telepon genggam miliknya.

Setelah kembali ke Bali, Krisna mulai mencoba berbagai usaha. Mulai dari menjual masker dan face shield saat pandemi, berdagang cabai dan rempah-rempah, hingga memasarkan tas dan pakaian melalui marketplace Facebook.

Titik awal perkembangan bisnisnya justru datang dari tawaran aksesori perhiasan kepada seorang pelanggan tas. Produk yang ditawarkan mendapat respons positif dan habis terjual dalam sehari.

Dari pengalaman tersebut, Krisna mulai serius mengembangkan usaha aksesori. Keuntungan penjualan tidak digunakan untuk kebutuhan pribadi, melainkan diputar kembali sebagai modal. Dalam waktu sekitar 10 bulan, ia berhasil mengumpulkan tabungan untuk membuka toko.

Bisnisnya kemudian berkembang melalui perekrutan karyawan, pemasaran digital, serta pemanfaatan berbagai platform e-commerce. Kini, usaha yang dibangunnya telah mempekerjakan tujuh orang dan mencatat omzet ratusan juta rupiah setiap bulan.

Di tengah kesibukan berwirausaha, Krisna tetap melanjutkan pendidikan di Program Magister Psikologi UM. Menurutnya, ilmu psikologi memberikan perspektif baru dalam menjalankan bisnis, terutama untuk memahami perilaku konsumen, membangun komunikasi, serta mengelola hubungan dengan karyawan.

“Di Psikologi UM, saya belajar banyak hal yang ternyata sangat relevan dengan bisnis. Saya jadi lebih memahami bagaimana manusia berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, membangun hubungan, dan merespons lingkungan,” jelasnya.

Krisna menilai pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh gelar, melainkan bekal untuk memperluas cara berpikir dan menemukan solusi atas berbagai persoalan. Pengetahuan yang diperoleh di kampus juga dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan dan dunia usaha.

Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak menyerah ketika menghadapi keterbatasan maupun kegagalan.

“Untuk mencapai mimpi-mimpi kita, tidak harus pintar sejak awal. Yang paling penting adalah kita tahu kurangnya di mana dan bagian mana yang harus kita pelajari lebih dalam,” katanya.

Menurut Krisna, keberhasilan membutuhkan proses panjang yang diisi dengan keberanian mencoba, belajar dari kegagalan, dan memperbaiki strategi.

Kisah mahasiswa UM ini juga mencerminkan kontribusi pendidikan terhadap penguatan kemandirian ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Dari modal awal Rp100 ribu, Krisna tidak hanya membangun usaha untuk dirinya sendiri, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi orang lain.

Perjalanannya menjadi pengingat bahwa masa depan tidak sepenuhnya ditentukan oleh kondisi awal kehidupan. Ketekunan, kemauan belajar, dan keberanian mengambil peluang dapat menjadi jalan untuk mengubah keterbatasan menjadi kemandirian. (*/ARM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *