Beranda / Pendidikan / Survei FISIP UB dan Indopol: 90,23 Persen Anak Muda Malang Tertekan Ekonomi

Survei FISIP UB dan Indopol: 90,23 Persen Anak Muda Malang Tertekan Ekonomi

Jnews.KotaMalang – Tekanan ekonomi menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi kesehatan mental generasi muda di Kota Malang. Survei kolaborasi FISIP Universitas Brawijaya (UB) dan Indopol Survey & Consulting mencatat, sebanyak 90,23 persen responden merasakan tekanan ekonomi.

Survei yang melibatkan 600 responden berusia 17–43 tahun tersebut dilaksanakan pada 27 Agustus hingga 7 September 2026. Hasilnya juga menunjukkan 71,67 persen responden menilai kondisi ekonomi berkontribusi signifikan terhadap stres yang mereka alami.

Direktur Eksekutif Indopol Survey & Consulting, Ratno Sulistuyantoni, menjelaskan kenaikan biaya hidup menjadi sumber tekanan ekonomi terbesar, yakni 31,84 persen. Persoalan mencari atau mempertahankan pekerjaan mencapai 16,44 persen, sedangkan cicilan dan utang, termasuk pinjaman online (pinjol), sebesar 16,32 persen.

Tekanan juga muncul akibat persaingan hidup di kota besar. Sebanyak 67,17 persen responden mengaku merasa tertekan oleh persaingan tersebut.

Survei ini turut menemukan gejala psikologis yang perlu mendapat perhatian. Sebanyak 18,33 persen responden mengalami perasaan putus asa dengan intensitas tinggi, sementara 15,67 persen merasa tidak berharga.

Tekanan yang dialami pemuda lokal dan mahasiswa perantau menunjukkan pola berbeda. Pada kelompok pemuda lokal, perasaan putus asa dengan intensitas tinggi mencapai 22,22 persen dan perasaan tidak berharga 19,11 persen. Sementara pada mahasiswa perantau, masing-masing tercatat 6,7 persen dan 5,3 persen.

Adapun mahasiswa perantau lebih banyak menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya hidup, yang disebut oleh 40,84 persen responden, serta persoalan perkuliahan sebesar 22,51 persen. Gejala kecemasan juga ditemukan pada kelompok ini, termasuk kesulitan merasa tenang dan gugup tanpa sebab.

Di sisi lain, pemanfaatan layanan profesional kesehatan mental masih rendah. Meski sekitar empat dari lima responden mengetahui keberadaan layanan tersebut, hanya 14,65 persen yang mencari bantuan profesional ketika mengalami stres berat. Sebanyak 76,50 persen memilih mengatasi tekanan secara informal, termasuk meluangkan waktu untuk diri sendiri, bercerita kepada orang terdekat, atau memendam masalah.

Ratno menegaskan, persoalan kesehatan mental tidak cukup ditangani melalui konseling semata. Kondisi pekerjaan, kemampuan memenuhi kebutuhan hidup, beban utang, dan tanggungan keluarga juga perlu menjadi bagian dari upaya penanganan.

“Karena itu, persoalan kesehatan mental tidak cukup dipahami sebagai masalah individu yang harus diselesaikan melalui konseling semata. Kondisi pekerjaan, kemampuan memenuhi kebutuhan hidup, beban utang, serta tanggungan keluarga juga perlu menjadi bagian dari penanganan,” ucapnya.

Berdasarkan temuan tersebut, FISIP UB dan Indopol merekomendasikan tiga langkah utama, yakni mengintegrasikan layanan konseling dengan pendampingan ekonomi, memperluas akses layanan kesehatan mental bagi mahasiswa perantau, serta memperkuat deteksi dini dan dukungan lingkungan sosial.

“Temuan tersebut menunjukkan pentingnya dukungan yang membantu mahasiswa menjalani masa transisi, terutama bagi mereka yang baru memasuki perguruan tinggi dan harus beradaptasi dengan lingkungan sosial maupun akademik yang berbeda,” papar Ratno.

Pemerintah daerah, perguruan tinggi, keluarga, dan masyarakat diharapkan berkolaborasi agar generasi muda memperoleh dukungan yang sesuai dengan persoalan yang dihadapi, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Di lingkungan keluarga dan masyarakat, edukasi mengenai kesehatan mental perlu diperkuat agar anak muda tidak merasa harus menghadapi masalah sendirian. Keluarga, teman sebaya, dan tokoh masyarakat dapat dibekali keterampilan pertolongan pertama psikologis untuk mendengarkan, memberikan dukungan awal, serta membantu menghubungkan seseorang dengan tenaga profesional. Informasi mengenai layanan kesehatan mental juga perlu disampaikan melalui kanal yang banyak digunakan anak muda, seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *