Beranda / Pendidikan / Perkuat Rekognisi Internasional, UMM Percepat Transformasi AI dalam Ekosistem Kampus

Perkuat Rekognisi Internasional, UMM Percepat Transformasi AI dalam Ekosistem Kampus

Jnews.KotaMalang – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah cara perguruan tinggi mengelola pengetahuan, mengembangkan sumber daya manusia, hingga menghasilkan inovasi. Merespons perubahan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak ingin berhenti pada penggunaan AI sebagai alat bantu pembelajaran. Kampus ini tengah menyiapkan transformasi yang lebih menyeluruh melalui pengembangan platform AI Agent di seluruh level organisasi, sekaligus memperluas kolaborasi dengan industri untuk memperkuat inovasi dan kesiapan talenta menghadapi perubahan dunia kerja.

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa transformasi AI perlu dimulai dari penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, kesiapan menghadapi perkembangan teknologi tidak cukup hanya dengan menyediakan infrastruktur digital. Perguruan tinggi juga harus memastikan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tenaga profesional memiliki kemampuan untuk memahami dan memanfaatkan teknologi secara produktif.

Karena itu, UMM tengah mengembangkan platform AI Agent yang akan diterapkan di berbagai level organisasi. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi sistem dan tata kelola kampus agar pemanfaatan AI dapat mendukung proses pengambilan keputusan, meningkatkan efektivitas layanan, serta memperkuat produktivitas kerja.

“Teknologi bukan sekadar alat bantu, tetapi harus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan daya saing institusi. Karena itu, penguatan kemampuan SDM menjadi hal penting agar transformasi AI tidak hanya terjadi pada sistem, tetapi juga pada cara kerja dan pola pikir seluruh sivitas akademika,” jelasnya.

Selain penguatan internal, UMM juga menempatkan kolaborasi dengan industri sebagai salah satu strategi penting dalam menghadapi perubahan lanskap pekerjaan. Kemitraan tersebut diperlukan untuk menjembatani kebutuhan dunia pendidikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan nyata di sektor industri.

Melalui kolaborasi ini, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga talenta yang memiliki keterampilan relevan, adaptif, dan mampu menciptakan solusi atas berbagai persoalan. Hubungan dengan industri juga membuka peluang pengembangan riset terapan dan inovasi yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Nazar sapaan akrabnya menegaskan, internasionalisasi perguruan tinggi juga perlu diarahkan pada pengembangan kerja sama yang produktif dan berdampak. Bukan sekadar memperbanyak hubungan antarlembaga, tetapi membangun jejaring strategis yang memungkinkan pertukaran pengetahuan, pengembangan inovasi, serta peningkatan kualitas talenta.

“Ada banyak peluang kolaborasi baru yang kami jajaki untuk memperkuat rekognisi internasional. Terutama melalui penguatan hubungan dengan industri, pengembangan inovasi, serta pengembangan talenta yang siap memasuki era AI. Perguruan tinggi harus mampu membangun ekosistem yang menghubungkan pendidikan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja,” tambahnya.

Gagasan tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali, pada 3–5 November 2026. Forum internasional ini diikuti lebih dari 1.500 pemimpin pendidikan tinggi, akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi industri dari berbagai negara.(*/ARM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *