Beranda / Pendidikan / Universitas Brawijaya Kukuhkan Lima Profesor, Hadirkan Gagasan Inovatif di Berbagai Bidang Keilmuan

Universitas Brawijaya Kukuhkan Lima Profesor, Hadirkan Gagasan Inovatif di Berbagai Bidang Keilmuan

Jnews.KotaMalang – Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan lima profesor dari berbagai bidang keilmuan. Prosesi pengukuhan yang digelar Selasa (22/9/2026) ini menghadirkan gagasan akademik mengenai pertanian berkelanjutan, rekayasa material, psikologi, simulasi molekuler, serta dekolonisasi pengetahuan melalui literasi visual.

Kelima profesor tersebut memaparkan hasil penelitian dan pemikiran yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan menjawab berbagai persoalan di masyarakat.

1. Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D., dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian pada Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK).

Ia tercatat sebagai profesor aktif ke-25 di FBIPK, profesor aktif ke-258 di UB, dan profesor ke-456 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan Universitas Brawijaya.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Edi mengangkat tema “E/D/C-RITA: Model Penyuluhan dan Komunikasi Era Baru untuk Adopsi Inovasi Pertanian Berkelanjutan.
Model tersebut dikembangkan berdasarkan pengalaman penelitian dan pengamatan lapangan selama 38 tahun. Gagasan ini berangkat dari persoalan bahwa petani tidak selalu langsung menggunakan inovasi pertanian, meskipun telah mengetahui manfaatnya.

Menurut Prof. Edi, keputusan petani untuk tidak mengadopsi inovasi tidak selalu menunjukkan kegagalan atau kurangnya pemahaman terhadap teknologi. Keputusan tersebut dapat menjadi pilihan rasional setelah mempertimbangkan informasi, mencoba inovasi, mengamati hasil, dan menyesuaikannya dengan kondisi masing-masing.

Model E/D/C-RITA menempatkan proses pertimbangan tersebut sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan, dengan menekankan aspek refleksivitas, yakni kemampuan menilai informasi, melihat hasil, dan memperbarui pemahaman.

Model ini terdiri atas lima tahapan, yaitu kesadaran, evaluasi awal, evaluasi refleksif, keputusan ambang, serta evaluasi setelah keputusan.

Dalam pendekatan tersebut, penyuluh tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai katalisator yang membantu petani mempertimbangkan pilihan dan menjadi mitra dalam menciptakan solusi.

Prof. Edi turut memperkenalkan COAST Framework, instrumen yang terdiri atas 30 item untuk membantu penyuluh mengidentifikasi hambatan adopsi inovasi dan menentukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi petani.

Melalui model E/D/C-RITA, ia menawarkan paradigma penyuluhan yang mengedepankan dialog, pertimbangan, dan kemandirian petani. Gagasan tersebut dirangkum dalam adagium:
“Jangan Dipaksa-Terpaksa-Terbiasa, Tetapi Diajak-Menimbang-Memandirikan.”

Model ini diarahkan tidak hanya untuk mendorong adopsi inovasi, tetapi juga membangun kemandirian petani dan sistem penyuluhan berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak.

2. Prof. Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, S.T., M.T., dikukuhkan dalam bidang Pelapisan dan Karakterisasi Material COAT360 Rekayasa Material pada Fakultas Teknik (FT).

Ia menjadi profesor aktif ke-34 di Fakultas Teknik, profesor aktif ke-259 di UB, serta profesor ke-457 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan Universitas Brawijaya.
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Putu memperkenalkan COAT360, sebuah kerangka kerja integratif yang menghubungkan tahapan rekayasa pelapisan, karakterisasi permukaan, ketahanan, hingga kinerja material fungsional dalam satu siklus terstruktur dan berorientasi pada fungsi.

Kerangka ini dirancang untuk menjawab tantangan pengembangan teknologi material yang selama ini kerap mengandalkan metode coba-coba atau trial and error, dengan data penelitian yang masih terpisah-pisah.

Melalui COAT360, kondisi permukaan dan antarmuka ditempatkan sebagai penghubung antara proses pembuatan material dan fungsi akhirnya.

Kerangka tersebut mengedepankan keterlacakan data serta pemanfaatan informasi keberhasilan maupun kegagalan sebagai umpan balik untuk memperbaiki desain material berikutnya.

Secara operasional, COAT360 menggunakan enam rantai bukti minimum yang meliputi pemeriksaan kondisi awal sebelum pelapisan, keseragaman pembentukan lapisan, perubahan struktur penyusun, daya lekat antarmuka, ketahanan terhadap lingkungan, hingga evaluasi fungsi akhir.

Pendekatan sistematis ini diharapkan dapat memastikan bahwa data karakterisasi tidak sekadar menjadi angka pengujian, tetapi juga menjadi dasar untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat dalam pengambilan keputusan rekayasa.

Penerapan COAT360 mencakup berbagai kebutuhan industri, mulai dari pengembangan kemasan pangan ramah lingkungan, biomaterial medis, teknologi energi bersih, hingga pencegahan korosi.
Ke depan, kerangka ini diarahkan untuk mendukung pembangunan bank data material tervalidasi, analisis prediktif berbasis kecerdasan buatan, serta percepatan hilirisasi hasil riset akademik ke dunia industri.

3. Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Psikologi Umum dan Eksperimen. Tawarkan “Lebur Duka Labur Rasa” Model Psikologi Berbasis Realitas Kehidupan.

Ia merupakan profesor ke-5 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta profesor ke-458 di Universitas Brawijaya.
Dalam pengukuhannya, Prof. Cleoputri memperkenalkan gagasan “Lebur Duka Labur Rasa”, sebuah model psikologi yang berangkat dari realitas kehidupan dan tradisi kontemplasi.

Ia mengkritisi kecenderungan psikologi arus utama yang menitikberatkan pada model hedonis, seperti perayaan ego, kesenangan hidup, dan optimisme, tanpa selalu disertai panduan filosofis yang mendalam.

Menurut Cleoputri, model yang ditawarkannya memandang bahwa segala sesuatu terjadi karena syarat-syaratnya telah terpenuhi, terlepas dari pemaknaan subjektif seseorang.

Model tersebut juga memandang bahwa diri bukanlah entitas yang sepenuhnya solid, melainkan memiliki tiga ciri yang bersifat cair, yakni mineness, centeredness, dan selfhood.

Mineness berkaitan dengan rasa kepemilikan terhadap tubuh. Centeredness merujuk pada anggapan bahwa diri merupakan pusat pengalaman, sedangkan selfhood berkaitan dengan ilusi kontinuitas bahwa diri bersifat unik dan istimewa.

Dalam penerapannya, model Lebur Duka Labur Rasa tidak diarahkan untuk menambahkan sesuatu pada diri, melainkan membantu individu melepaskan kemarahan, ketakutan, dan ketidaktenangan.

“Hal ini akan dipahami sebagai kelemahan bagi individu yang beranggapan kekuatan ekuivalen dengan pertambahan,” ujar Cleoputri.

Ia menambahkan, model tersebut ditawarkan untuk merevitalisasi cita-cita psikologi sebagai ilmu yang tidak hanya mengkaji proses mental dan perilaku, tetapi juga membentuk individu yang memiliki kesehatan mental.

Cleoputri menekankan pentingnya pengujian berkelanjutan pada berbagai kelompok masyarakat serta edukasi publik agar model tersebut dapat dipahami secara terintegrasi.

4. Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D., Guru Besar Fakultas Teknik bidang Simulasi Dinamika Molekul, mengembangkan penelitian untuk meningkatkan efisiensi pemisahan air dan alkohol serta penangkapan karbon dioksida (CO₂).

Ia tercatat sebagai profesor aktif ke-35 di Fakultas Teknik, profesor aktif ke-261 di UB, dan profesor ke-459 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan Universitas Brawijaya.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Winarto memaparkan pemanfaatan simulasi molecular dynamics (MD) melalui MDTOOL untuk mengamati perilaku molekul pada skala sangat kecil.

Penelitian ini berangkat dari tingginya kebutuhan energi dalam proses pemisahan alkohol dari air. Metode konvensional, seperti distilasi, membutuhkan energi dalam jumlah besar.

Melalui simulasi, Prof. Winarto menunjukkan bahwa carbon nanotubes (CNT) yang dipadukan dengan medan listrik berpotensi memperkuat proses pemisahan air dari metanol maupun etanol.
Medan listrik membuat molekul air di dalam CNT tersusun lebih teratur, sehingga lebih mudah masuk dan bertahan di dalam nanotube.

Penelitian kemudian dikembangkan untuk menangkap CO₂ dari gas hasil pembakaran. Hasil simulasi menunjukkan bahwa CNT memiliki kemampuan adsorpsi CO₂ yang lebih kuat dibandingkan nitrogen (N₂) dan oksigen (O₂), sehingga berpotensi dimanfaatkan dalam proses pemisahan.
Riset tersebut juga mencakup penggunaan boron nitride nanotubes (BNNT) dan membran silikon nitrida (Si₃N₄). Hasil simulasi menunjukkan bahwa keberadaan membran tersebut dapat memperkuat efek pemisahan CO₂.

Ke depan, Prof. Winarto berencana memperluas pemanfaatan simulasi dinamika molekul ke bidang penyimpanan energi, khususnya baterai dan superkapasitor.
Simulasi akan digunakan untuk memahami mekanisme material pada skala molekuler sekaligus membantu merancang material dengan kinerja yang lebih baik.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan peneliti eksperimental agar hasil simulasi dapat divalidasi dan dikembangkan menuju penerapan teknologi nanomaterial.

5. Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn., dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Media, Gender, dan Studi Budaya Dorong Dekolonisasi Pengetahuan melalui Literasi Visual

Ia menjadi profesor ke-6 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta profesor ke-460 di Universitas Brawijaya.

Dalam prosesi pengukuhan yang dilaksanakan pada Selasa (22/9/2026) di Samanta Krida, Prof. Desi membahas gagasan “Dekolonisasi Pengetahuan Subjek Terjajah melalui Literasi Visual Dekolonial.”

Menurut Desi, pengalaman kolonialisme tidak hanya meninggalkan dampak fisik dan mental, tetapi juga membentuk rezim pengetahuan yang memengaruhi cara manusia membaca dan memahami dunia.

Pengaruh tersebut mencakup pemaknaan terhadap realitas sosial, tubuh, gender, sejarah, hingga cara masyarakat memandang masa depan.

Ia menilai persoalan ini semakin penting seiring perubahan cara masyarakat mengonsumsi pesan, dari dominasi teks menuju visual.

Namun, perubahan tersebut belum selalu diikuti dengan penguatan kemampuan literasi visual.

“Kita hidup dalam paradoks: dibanjiri representasi visual, tetapi rendah kemampuan membaca dan mengkritiknya. Inilah salah satu bentuk epistemik kolonial yang bekerja dalam diam, yaitu kolonisasi cara kita membaca dunia,” jelas Desi.
Sebagai solusi, ia menawarkan Literasi Visual Dekolonial sebagai perangkat analisis sekaligus pedagogi.

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi tersebut memperkenalkan modul ajar literasi visual kritis, protokol kurasi museum yang inklusif, serta riset transdisipliner mengenai tatanan visual di ruang digital.

Desi menjelaskan, dekolonisasi pengetahuan merupakan upaya membongkar rezim pengetahuan kolonial yang berkelindan dengan pengalaman bangsa yang pernah dijajah, sekaligus membangun produksi pengetahuan yang berorientasi pada pemberdayaan.

Ia menawarkan tiga langkah strategi, yaitu menyingkap sudut pandang, melacak asal-usul historis standar visual, dan melawan melalui produksi tatanan visual tandingan.
Langkah pertama dilakukan dengan mempertanyakan siapa yang menempatkan sebuah gambar, dari sudut pandang siapa gambar tersebut disusun, dan siapa yang tidak hadir di dalamnya.

Langkah kedua adalah menelusuri asal-usul historis standar visual hingga rezim pengetahuan kolonial yang melahirkannya.
Sementara langkah ketiga diwujudkan melalui produksi tatanan visual alternatif, seperti kurasi museum yang menghadirkan kembali kelompok yang sebelumnya dihapus, bahan ajar yang tidak mereproduksi hierarki gender, serta praktik bermedia sosial yang tidak menjadikan standar kolonial sebagai ukuran kelayakan diri.

Desi berharap Literasi Visual Dekolonial dapat mendorong masyarakat menjadi pembaca yang berdaulat terhadap gambar, bukan sekadar penerima pesan visual.
“Ilmu pengetahuan harus bekerja untuk memanusiakan dan memerdekakan,” pungkasnya.

Lima Profesor, Lima Gagasan untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Pengukuhan lima profesor Universitas Brawijaya ini menghadirkan gagasan dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari inovasi pertanian, rekayasa material, psikologi, teknologi molekuler, hingga kajian media dan budaya.

Gagasan yang disampaikan dalam pidato pengukuhan menjadi bagian dari kontribusi akademik UB dalam mengembangkan penelitian dan pemikiran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan teknologi.(*/ARM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *