Jnews.KotaMalang – Universitas Brawijaya (UB) menggandeng Consortium of Inclusive Teacher Education and Development (CITED) dalam penyelenggaraan International Conference bertajuk Belonging Without Borders: Strengthening Collective Commitment for an Inclusive World, Rabu (28/10/2026) di Gedung Rektorat UB.
Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., menyampaikan bahwa UB merasa terhormat dapat berkontribusi dalam dialog internasional yang telah dilaksanakan di berbagai belahan dunia ini. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan pendekatan praktis dan berkelanjutan untuk diterapkan dalam kebijakan institusional Indonesia dan dapat menguatkan jaringan antar peneliti.
Menurut Prof. Imam, tema yang diusung membawa pesan yang mendalam. Mengingatkan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar menyediakan akses terhadap kesempatan belajar.
Lebih dari itu, menciptakan lingkungan pendidikan di mana setiap individu merasa dihargai, dihormati, didukung, dan diberdayakan untuk berpartisipasi secara bermakna, terlepas dari latar belakang, kemampuan, maupun kondisi mereka.
UB meyakini sepenuhnya bahwa inklusi merupakan nilai mendasar sekaligus tanggung jawab bersama. Memajukan pendidikan inklusif memerlukan lebih dari sekadar inisiatif individu atau kebijakan institusional.
Hal ini menuntut komitmen berkelanjutan, kemitraan, serta kesediaan kolektif untuk belajar dari berbagai pengalaman dan perspektif yang beragam.
“Melalui kesempatan ini, kita dapat menguatkan aksi bersama untuk menciptakan pendidikan yang inklusif,” tambahnya.
Ketua Kelompok Pengarah CITED, Prof. Umesh Sharma menjelaskan bahwa CITED lahir dari pertanyaan sederhana dalam konferensi Fiji tahun 2018, “apa yang terjadi jika berhenti bekerja secara individu?”
“Kami adalah grup akademisi, guru, peneliti, dan para penggiat hak disabilitas dari berbagai dunia yang memiliki semangat dalam mmengembangkan stategi dan sumber daya untuk para guru mewujudkan pendidikan inklusif bagi semua peserta didik,” jelas Prof. Umesh
UB sendiri memiliki dimensi transformasi institusional untuk mewujudkan pendidikan inklusif. Pertama, UB mendukung kesetaraan gender dalam birokrasi kampus. “Sebanyak 52.2% dosen adalah perempuan, 36.6% tenaga pendidik perempuan, dan 58% mahasiswa UB juga perempuan,” sebut Prof. Imam.
Kedua, UB memiliki enam program afirmasi untuk daerah tertinggal seperti ADik Papua, ADEM Papua, ADEM Repatriation, ADik 3T, jalur penerimaan khusus mahasiswa disabilitas, dan penerimaan mahasiswa internasional.
“ADik untuk peserta didik lulusan pendidikan dasar dan menengah Papua, ADEM untuk peserta didik yang menyelesaikan pendidikan di luar Papua, Repatriation untuk mereka yang orang tuanya Pekerja migran Indonesia,” lanjut Prof. Imam.
Selain itu, UB sendiri sudah memfasilitasi 329 mahasiswa aktif disabilitas dan 185 wisudawan dalam 74 program studi. Pelayanan ini diperkuat melalui program-program dari Sub-direktorat Layanan bagi Penyandang Disabilitas dan Pendidikan Inklusif.
“Hal tersebut diperkuat melalui integrasi informasi dan sistem manajemen pembelajaran melalui sistem satu pintu lewat ea.ub.braindevs.com,” tutup Prof. Imam.
Konferensi tahun ini menghadirkan komunitas akademik internasional yang mewakili sembilan negara: Indonesia, Australia, Bangladesh, Filipina, Italia, Inggris, Finlandia, Pakistan, dan Malaysia.
Berdasarkan catatan pendaftaran konferensi, terdapat 43 entri presentasi yang terdiri dari 20 presentasi secara langsung (luring) dan 23 presentasi secara daring, serta sembilan peserta yang terdaftar, dengan empat orang hadir secara langsung dan lima orang bergabung secara virtual. Secara keseluruhan, konferensi ini mencatat 52 entri pendaftaran. (*/ARM)










