
Jnews.KotaMalang – Universitas Brawijaya (UB) dipercaya oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk menerjemahkan ringkasan eksekutif laporan PBB mengenai kondisi sumber daya air dunia tahun 2026.
Rektor UB Prof. Widodo Kamis (19/3/2026) mengatakan kepercayaan ini merupakan bentuk pengakuan global terhadap kapasitas akademik Indonesia dalam berkontribusi pada agenda krisis air berkelanjutan.
”Kepercayaan kepada UB yang diberikan oleh UNESCO merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar,” kata Widodo.
Hasil terjemahan tersebut diterbitkan dalam buku berjudul “Air untuk Semua” yang diluncurkan secara internasional di Paris, Kamis (19/3/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia. Buku tersebut berisi gambaran komprehensif mengenai tantangan dan strategi pengelolaan sumber daya air global.
Prof. Widodo menambahkan, inisiatif yang dimotori oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Internasionalisasi ini menegaskan peran UB yang tidak hanya membangun reputasi akademik, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi kemanusiaan.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Internasionalisasi Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc. menjelaskan bahwa proses penunjukan ini telah berlangsung sejak 2025 melalui koordinasi intensif dengan pihak UNESCO.

”UB tidak hanya bertindak sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai representasi Indonesia. Kami memiliki tanggung jawab memastikan informasi ilmiah ini dapat diakses dan dipahami masyarakat luas,” kata Andi.
Menurut dia, laporan PBB tersebut merupakan salah satu referensi ilmiah paling krusial dalam memetakan ketersediaan air dunia, sehingga penyebarluasan informasi dalam bahasa yang mudah dipahami menjadi sangat penting.
Prof. Andi menambahkan, selama ini kerja sama internasional perguruan tinggi cenderung terbatas pada kolaborasi akademik antar universitas. Namun, UB berupaya melangkah lebih jauh dengan menjalin kemitraan bersama organisasi global seperti UNESCO yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Kalau kita berbicara tentang globalisasi peran perguruan tinggi, maka tidak cukup hanya bekerja sama dengan kampus luar negeri. Kita harus masuk ke lembaga strategis dunia, dan salah satu yang paling relevan dengan bidang pendidikan dan sumber daya air adalah UNESCO,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan UB dalam UNESCO juga tidak terlepas dari meningkatnya urgensi isu air di tingkat global. Krisis air kini menjadi salah satu permasalahan utama yang dihadapi banyak negara, baik di Asia, Eropa, maupun kawasan lainnya.
“Hari ini kita melihat bahwa permasalahan lingkungan semakin nyata di depan mata. Fakta-fakta ilmiah menunjukkan bahwa krisis air terus berkembang dan menjadi tantangan besar bagi masyarakat dunia. Ini bukan lagi isu lokal atau parsial, tetapi sudah menjadi isu strategis global,” tegas Andi.
Sementara itu,Direktur Regional UNESCO di Jakarta Maki Katsuno-Hayashikawa mengatakan laporan Pembangunan Air Dunia PBB 2026 menunjukkan bagaimana ketimpangan gender terus memengaruhi krisis air global.
“Tersedianya Ringkasan Eksekutif dalam Bahasa Indonesia membantu memastikan bahwa pengetahuan ini dapat mendasari keputusan dan tindakan yang lebih inklusif di Indonesia. Kolaborasi dengan institusi akademik adalah kunci untuk mewujudkan hal ini, dan kontribusi Universitas Brawijaya melalui penerjemahan adalah contoh nyata bagaimana kemitraan semacam itu dapat membantu meningkatkan kesadaran akan tantangan terkait air dan membuat pengetahuan lebih mudah diakses di tingkat nasional,” kata Maki.
Buku berjudul “Air untuk Semua” ini mengulas tentang bagaimana kesetaraan gender memegang peranan vital dalam akses sumber daya air dan pemenuhan hak asasi manusia atas sanitasi.
Meskipun perempuan memikul tanggung jawab utama dalam urusan air rumah tangga, mereka justru paling terdampak oleh keterbatasan akses air bersih dan seringkali tidak memiliki hak kepemilikan lahan yang memadai untuk pemanfaatan air secara produktif.
Mengatasi ketimpangan gender bukan hanya soal keadilan, tetapi juga menjadi kunci dalam pengentasan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan mempersempit kesenjangan gender, peluang pengelolaan air yang lebih luas, akuntabel, dan berkelanjutan dapat terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Buku laporan ini diterbitkan UNESCO WWAP atas nama UN-Water dan diterjemahkan oleh Universitas Brawijaya. Upaya UB melakukan translasi tidak terlepas dengan keterlibatannya dalam komite nasional untuk IHP UNESCO sejak tahun 2025. Intergovernmental Hydrological Programme (IHP) merupakan program antar pemerintah dari UNESCO yang fokus ke manajemen hidrologi atau yang berkaitan dengan air.
Selain proyek translasi, Andi mengungkapkan bahwa UB tengah bersiap mengajukan diri sebagai UNESCO Chair di bidang pengelolaan sumber daya air, khususnya untuk kawasan pesisir.
Langkah strategis ini muncul setelah UNESCO melihat potensi besar UB dalam bidang tersebut. Jika berhasil, UB akan mendapatkan puengakuan internasional atas praktik terbaik (best practices) yang telah dikembangkan selama ini.
”Dengan menjadi UNESCO Chair, diharapkan formula pengelolaan air di UB bisa dirumuskan secara sistematis untuk menyelesaikan permasalahan di kawasan Asia Pasifik maupun dunia,” ujarnya.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi besar internasionalisasi kampus yang berorientasi pada kontribusi nyata terhadap isu-isu strategis global. (RST&OKY/Humas UB).













