Jnews.KotaMalang – Berangkat dari persoalan minimnya informasi angkutan umum, mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggagas Angkot-Go. Inovasi berupa prototipe platform digital ini dirancang untuk membantu menghidupkan kembali ekosistem angkutan kota (angkot) melalui pengelolaan yang lebih terintegrasi. Gagasan tersebut mengantarkan tim UMM meraih predikat Best Group dalam kompetisi ASpire 2026 (Eastern Indonesia App Challenge) yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkolaborasi dengan U.S. Consulate General Surabaya.
Tim beranggotakan Fahmi Alfaqih dan M. Ramadhan Titan Dwi C. dari angkatan 2023, serta Andre Firmansyah dari angkatan 2025. Kompetisi berlangsung melalui dua tahap, yakni online hackathon pada 14 Februari–14 September 2026 dan offline stage pada 15–17 September 2026 di Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem ITS, Surabaya.
Dalam tahap seleksi daring, gagasan mereka harus bersaing dengan 162 peserta. Tim UMM kemudian berhasil masuk dalam 36 peserta yang lolos ke babak luring. Pada tahap final, mereka mempresentasikan proyek sekaligus menjawab pertanyaan juri, bersaing dengan sepuluh tim lainnya hingga memperoleh predikat Best Group.
Salah satu anggota tim, Fahmi, menjelaskan bahwa Angkot-Go dirancang untuk menghubungkan tiga pihak dalam ekosistem transportasi umum, yakni pemerintah atau pengelola, sopir, dan penumpang. Melalui platform ini, pemerintah dapat memperoleh data jumlah penumpang secara real-time sebagai bahan evaluasi kepadatan jalur, kebutuhan armada, hingga pembagian insentif sopir.
Sementara itu, sopir dapat melaporkan jumlah penumpang, memantau calon penumpang di halte, serta memperbarui informasi ketersediaan kursi. Penumpang juga bisa mengetahui posisi angkot terdekat, jumlah kursi kosong, rute perjalanan, hingga jadwal keberangkatan.
“Angkot-Go kami kembangkan sebagai upaya membangun ekosistem angkutan umum agar kembali hidup dan mampu menyejahterakan sopir,” jelas Fahmi.
Ia menuturkan, gagasan tersebut berangkat dari minimnya informasi operasional angkot yang membuat masyarakat beralih ke layanan transportasi daring. Karena itu, tim ingin menghadirkan solusi sederhana berbasis teknologi yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Meski demikian, pengembangan prototipe ini menghadapi tantangan, terutama keterbatasan akses informasi dari Pemerintah Kota Malang. Tim akhirnya menyusun simulasi rute, titik pemberhentian, hingga jadwal operasional secara mandiri.
Ke depan, mereka berencana menyempurnakan Angkot-Go menjadi aplikasi yang siap digunakan serta membuka peluang kolaborasi dengan Pemerintah Kota Malang. Mereka berharap inovasi ini tidak berhenti sebagai proyek kompetisi, tetapi dapat diterapkan untuk mendukung keberlangsungan transportasi umum.
“Teknologi bukan hanya tentang seberapa canggih sesuatu dibuat, tetapi seberapa besar dampak dan manfaatnya bagi masyarakat,” pungkasnya.(*/ARM)











